BBC, 24 Maret 2010, Presiden Barack Obama menandatangani RUU kesehatan yang penting menjadi UU di Gedung Putih.

UU ini memperluas jaminan asuransi untuk sekitar 32 juta warga Amerika yang belum memilikinya.

Obama mengatakan menandatangani RUU ini untuk orang-orang seperti ibunya “yang berdebat dengan perusahaan asuransi sekali pun dia menghadapi kanker pada hari-hari terakhirnya.”

RUU ini ditentang keras anggota Partai Republik yang mengatakan UU ini terlalu mahal. Obama mengatakan,”RUU yang saya tandatangani akan mendorong reformasi yang diperjuangkan beberapa generasi rakyat Amerika.”

RUU reformasi kesehatan tersebut konon menelan biaya US$938 miliar.

(Kompas), Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih  menyatakan bahwa keluarnya UU tersebut merupakan terobosan luar biasa bagi pelayanan kesehatan di negeri yang berideologi kapitalisme dan kebebasan individu ini. Bu Menteri juga memberikan sedikit pembelaan bahwa Indonesia belum bisa segera mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Barack Obama.

Mengapa belum bisa ???

Persoalan terberat mewujudkan universal coverage di Indonesia adalah isu Jamkesos belum menjadi priority issue di tingkatan Kepala Pemerintahan. Perbedaan ini bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan  keseriusan Barack Obama dalam memperjuangkan UU Kesehatan. Obama bukan saja berbicara pada dataran konseptual, pada tingkat persiapan implimentasi pun  menjadi isu yang penting baginya.

Salah satu isu yang dianggap penting oleh Barack Obama adalah penggunaan Teknologi Informasi  dalam Kesehatan. Salah satunya pada CNNMoney.com yang menuliskan Obama’s big idea: Digital health record. “This will cut waste, eliminate red tape, and reduce the need to repeat expensive medical tests,” said Obama. “It just won’t save billions of dollars and thousands of jobs — it will save lives by reducing the deadly but preventable medical errors that pervade our health care system,” he added. Dan, “Obama’s support for electronic medical records is one of the key efforts of health reform that actually will deliver lower costs for hard-working American families,” said Larry McNeely.

Obama telah melihat bagaimana sulitnya persiapan penggunaan IT dalam Kesehatan yang harus diselesaikan jika ingin menerapkan Jaminan.

Kesehatan Sosial yang universal coverage. Bayangkan saja, untuk Amerika yang sudah jauh lebih maju dalam penggunaan Komputer hanya 8% dari 5.000 RS Pemerintah dan 17% dari 8.000 dokter nya yang menggunakan pencatatan Record dengan sistem komputerisasi. Persoalan lain adalah kurangnya tenaga terampil dalam penerapan IT di Kesehatan. Belum lagi dengan tidak terlalu pedulinya kalangan dokter dengan mekanisme komouterisasi di sistem kesehatan.

Bagaimana dengan Indonesia ???

Inilah mungkin salah satu tantangan terbesar mengintegrasikan IT dalam Jaminan Kesehatan Sosial Nasional.

IT dan Asuransi Kesehatan

            Yaslis Ilyas (Dalam Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan Bagian B, 2005) menyatakan paling tidak ada lima manfaat IT dalam Asuransi Kesehatan. Yaitu :

  • Pertama, mendorong lebih murahnya biaya administrasi. Biaya Administrasi yang biasanya muncul dalam 3 tahapan, yaitu pengeluaran untuk pemasaran, pengeluaran untuk underwriting, dan pengeluaran untuk penanganan klaim akan dapat ditekan secara maksimal.  Pemasaran dan Underwriting mungkin tidak terlalu penting di era Asuransi Sosial, akan tetapi tetap bisa dialokasikan untuk mensosialisasikan pentingnya Jaminan Kesehatan Sosial ke masyarakat.
  • Kedua, lebih efisien dikarenakan lebih bannyak klaim yang dapat diproses dengan biaya yang dikeluarkan. Dengan IT, proses klaim di daerah-daerah terpencil pun dapat dengan cepat diverifikasi oleh tim verifikator yang terpusat.
  • Ketiga, menyediakan perubahan informasi yang cepat untuk proses klaim kesehatan.
  • Keempat, menghasilkan format standart diantara seluruh Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) yang menyampaikan dan membayar klaim asuransi, dan
  • kelima, dapat dilakukan cost containment  sehingga dapat menghemat pembiayaan kesehatan secara keseluruhan. Hal ini dkarenakan memudahkan dilakukannya Utilitation Review.

IT dan Road Map

Yang menarik pula dari tulisan Bu Menteri dalam Road Map Jaminan Kesehatan Sosial Nasional adalah “Untuk mencapai sistem Jaminan Kesehatan Sosial Nasional tidak cukup hanya memperluas cakupan kepesertaan, diperlukan kesiapan-kesiapan infrastruktur yang matang”.

Apa yang dimaksudkan oleh Bu Menteri dengan Kesiapan infrastruktur dalam IT ? Untuk memudahkan pemahaman kita terhadap harapan Bu menteri tersebut, dapat dibayangkan dengan rencana pemerintah membangun infrastruktur jalan.  Dibutuhkan banyak persiapan, perencaan, pengorganisasin, keterlibatan banyak stakeholders, sumber daya manusia, dan pembiayaan.Dan salah satu yang penting dari hal-hal penting tersebut adalah mengintegrasikan teknologi informasi dalam Jaminan Kesehatan Sosial.

Alhamdulillahnya, jika diperhatikan Road Map Jaminan Kesehatan Sosial Nasional yang dipersiapkan oleh Kementerian Kesehatan,  telah memasukkan IT dalam salah satu blok yang akan diperhatikan.  Sehingga perlu dipersiapkan secara serius pengintegrasian tersebut, sehingga ketika pengorganisasian telah siap maka IT segera dapat berjalan.

IT, Kepesertaan dan COBIT

            Banyak isu penting terhadap penerapan IT dalam Jaminan Kesehatan Sosial.  Belajar dari keberhasilan PT. Askes dalam menerapkan Bridging System yang disampaikan oleh Kemal Imam Santoso, Wakil Dirut dan CIO PT Askes bahwa Proyek integrasi system IT di PT. Askes yang dinamakan dengan  Bridging System bertujuan menjalankan electronic data processing antara PT Askes dan RS mitranya. Sekarang PT. Askes dapat merasakan benefit dari Bridging System tersebut. Terutama, dalam hal peningkatan produktivitas dan perbaikan efisiensi. Dalam pelayanan administrasi kepesertaan terjadi peningkatan dari 10 menit menjadi 2 menit.

Dari pengalaman tersebut di atas, kita bisa melihat bersama bahwa system infromasi sangat memegang peranan penting dalam system jaminan kesehatan.