Ditinjau dari Visi, Misi dan Struktur Organisasi yang dibangun oleh dinas kesehatan tak perlu diragukan lagi keseriusan dan mantapnya konsep pelayanan kesehatan di Indonesia. Andaikata semua bagian mampu bergerak sesuai dengan peran dan fungsinya tentu slogan Indonesia Sehat tak sekedar indah ditulis dan diseminarkan saja. Tapi mengapa masih banyak masyarakat yang kesulitan mendapat pelayana kesehatan ? Mengapa di banyak kasus instansi baru tanggap ketika sudah ada kejadian ?

Menelisik lebih jauh terhadap perangkat kesehatan dan beban tugas yang menjadi tanggung jawabnya mungkin sedikit bisa mengurai kusutnya problematika kesehatan yang dihadapi. Dengan mengetahui permasalahan yang ada, diharapkan akan memudahkan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Analisa Permasalahan :

  • Tinjauan Organisasi

Mulai dari Kementrian Kesehatan sampai dengan posyandu di pelosok negeri ini merupakan alat kelengkapan organisasi yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Dilihat dari jumlahnya yang sangat besar dan strukturnya yang sangat komplek, bisa dibayangkan betapa rumit dan panjangnya alur pelayanan. Terbayang sudah bagaimana susahnya menggali, mengumpulkan, dan menganalisa data dari sedemikian besar data. Apalagi kalau sudah melibatkan wilayah pedalaman yang secara fisik saja sudah sulit dijangkau. Bagaimana mau cepat dan valid ?

  • Tinjauan peran dan fungsi

Beragamnya problem kesehatan dan problem social yang mengikutinya seringkali menyebabkan aparat kesehatan tidak bisa menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal. Ambil contoh di daerah tertentu yang masih menganggap tabu memeriksakan kesehatan ke tenaga medis dan lebih memilih mendatangi dukun adalah sebagian kecil gambaran sulitnya aparat medis di negeri ini menjalankan tugasnya.

Disisi lain yang secara hambatan social kemasyarakatan sudah bisa dibilang tidak ada, masih saja menghadapi kendala serius karena masih kurang berimbangnya tenaga medis dan jumlah masyarakat yang harus dilayani.

  • Tinjauan perangkat pendukung

Struktur organisasi kesehatan dibangun dengan tujuan untuk mempermudah upaya memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Namun demikian kemampuan Negara dalam menyiapkan tenaga medis sampai saat ini masih sangat terbatas, apalagi di wilayah desa dan pedalaman. Ditinjau dari sisi jumlah di pulau jawa saja yang notabene wilayah terjangkau, rata-rata hanya ada satu puskesmas. Bayangkan 1 puskemas harus menjangkau wilayah sekian luas dengan beban tugas tidak hanya mengobati yang sakit, tapi juga harus memberikan pelayanan imunisasi di lapangan, dan mengajak masyarakat berbudaya hidup sehat. Mana mungkin ????

Adanya pustu, polindes, dan poskesdes adalah upaya untuk menambah daya jangkauan puskesmas ke masyarakat, namun masih saja belum berimbang antara petugas medis yang ada dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan.

  • Keterbatasan anggaran

Ketika ada ketidakpuasan pelayanan kesehatan biasanya alasan yang pasti dimunculkan adalah “kurangnya anggaran”. Tidak salah memang, jumlah pegawai dan tenaga kesehatan yang sedemikian banyak semuanya harus digaji tiap bulan. Obat dan peralatan medis semuanya juga harus beli. Semakin banyak yang minta pelayana kesehatan berarti semakin tinggi beban biaya yang ditanggung Negara. Jadi wajarkah kalau pelayanan kesehatan kita masih buruk ?

Terus bagaimana ?

Melihat kenyataan seperti yang diuraikan di atas tentunya kita tidak boleh pesimis apalagi patah semangat. Masih banyak yang bisa dilakukan meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, antara lain :

  • Lebih mengembangkan pelayanan kesehatan bersumberdaya masyarakat

Struktur kemasyarakatan yang ada dalam masyarakat yang mampu menjangkau per keluarga secara langsung adalah RT, untuk itu perlu upaya menggandeng kelompok masyarakat ini. Posyandu dan Posyandu Lansia mungkin salah satu contoh yang sudah ada, dan sangat mungkin untuk dikembangkan dalam model lain misalnya penyuluhan Pola Hidup Sehat dan Bersih yang tentu akan lebih efektif jika dilakukan dan diawasi langsung oleh lingkungan. Petugas kesehatan tinggal keliling sesekali waktu untuk memberikan bekal teknisnya.

  • Memanfaatkan Teknologi Informasi

Banyak hal dalam kegiatan pelayana kesehatan masyarakat bisa memanfaatkan teknologi informasi. SIK, SIMPUS, website, dll adalah salah satu bentuk pemanfaatannya. Yang tak kalah penting adalah bagaimana memaksimalkan aplikasi-aplikasi yang sudah ada tersebut. Jangan sampai aplikasi dibangun kemudian dibiarkan saja dan hanya sebagai koleksi. Teknologi informasi adalah jalur pintas untuk memangkas kendala kesulitas akses wilayah, dan mempercepat komunikasi data.

  • Membangun jalur komunikasi langsung dengan masyarakat

Struktur birokrasi yang panjang sering kali menjadi kendala bagi pimpinan untuk mengetahui secara cepat data dari masyarakat, dan sebaliknya juga masyarakat juga susah untuk memberikan masukan ataupun koreksi kepada pihak pengambil kebijakan. Teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk mengatasi kendala ini. Produk yang bisa digunakan antara lain :

1. SMS Gateway

HP telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, tak peduli golongan apa saja. Karena ini SMS Gateway menjadi pilihan menarik untuk menampung informasi dan kritik dari masyarakat secara langsung.

2. Website yang uptodate

Hampir semua instansi sudah memiliki website, hanya saja sering kali hanya sekedar ada dan jarang diupdate. Agar lebih bermanfaat seharusnya website dikelola secara khusus dan secara harian memberikan informasi ataupun panduan kepada masyarakat tentang visi misi yang dituju oleh dinas kesehatan.