SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS

Rumah Sakit semakin dituntut untuk semakin kompetitif, memberikan pelayanan bermutu dan memperoleh penghasilan yang cukup untuk dapat melangsungkan pelayanan, bahkan dapat mengembangkan diri.

Salah satu prasyarat pengembangan mutu terpadu adalah orientasi pada data. Informasi yang disampaikan kepada manager rumah sakit berdasarkan data akurat, tepat waktu dan tersaji dalam format yang sesuai, akan mendukung pengambilan keputusan manajemen secara efektif.

Pengembangan rekam medis menjadi system informasi strategis berawal dari pemantapan rekam medis sebagai inti dari system data klinis (clinical data system) yang bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, menyimpan dan melacak kembali data yang diperlukan dalam penyelenggaraan, pemantauan dan evaluasi pelayanan kesehatan kepada pasien.

 

Komponen Penting yang Mengacu pada Kebutuhan

 

  •       Record format

Bentuk yang sesuai contoh berbagai pelayanan sesuai kebutuhan.

  •       System performance

Seperti pemanggilan kembali, serta mudah dalam pengubahan data.

  •       Reporting capabilities

Kelengkapan dokumen, mudah untuk dimengerti dan standar laporan

  •       Training and implementation

Pelatihan yang minimal untuk menggunakan dengan benar.

  •       Control and acces

Untuk mengakses bagi yang berwenang tapi terlindung dari penyalahgunaan.

  •       Intelegence

Seperti system bantu keputusan, system tanda baca yang sesuai.

  •       Linkages

Terkait dengan berbagai pelayanan lain, perpustakaan, database pasien dan keuangan.

  •       Record content

Meliputi standarisasi formulir dan isi, sesuai dengan kode penyakit dan tujuan layanan.

 

Komponen Penting Penggunaan Rekam Medis pada Individual

  •       Patient Care Delivery (consumers)

Untuk pasien dan keluarga.

  •       Patient Care Management and Support

Untuk manajer mutu, informasi kesehatan dan manajemen para professional dan administrasi.

  •       Lain-lain,

Seperti akreditasi, kebijakan pemerintah dan penelitian.

  •       Patient Care Reimbursment

Untuk manajer keuangan dan penagihan asuransi.

  •       Patient Care Delivery (Provider)

Seperti perawat, dokter, dan ahli farmasi.

 

Penggunaan Rekam Medis oleh Institusi

  •       Research

Penelitian penyakit dan kesehatan umum

  •       Education

Untuk pendidikan dokter, perawat, kesehatan masyarakat

  •       Accreditation

Akreditasi, institusi, dan para profesional

  •       Reimbursment of care

Untuk kerjasama penagihan antara pusat pelayanan

  •       Management and review of care

Untuk peer rewiev, menjaga mutu dan utilization review dan manajemen pelayanan.

  •       Health Care Delivery (Inpatient and outpatient)

Untuk aliansi pelayanan, jaringan pelayanan, pengmbangan administrasi pembebanan.

 

Keuntungan Komputerisasi rekam Medis

  • Ketepatan waktu dalam pengambilan keputusan medis, sihingga mutu pelayanan atau asuhan akan semakin baik.
  • Kemudahan penyajian data sehingga penyampaian informasi akan lebih efektif.
  • Pembentukan database yang memungkinkan penelitian, simulasi dan pendidikan tenaga medis maupun paramedic, berdasarkan data yang nyata.
  • Efisiensi pemanfaatan sumber daya dan biaya dengan system penyediaan bahan (inventory) yang dapat menekan biaya penyimpanan, pemesanan barang maupun biaya stockout, manajemen utilisasi menyangkut tindakan atau prosedur yang tidak perlu, dan lain-lain.

 

Sistem Data Klinis

1.   Rekam medis masing-masing pasien            :

Isi rekam medis individual hendaknya mencerminkan sejarah perjalanan kondisi kesehatan pasien mulai dari lahir sampai berlangsungnya interaksi mutakhir antara pasien dengan rumah sakit. Pada umumnya struktur rekam medis individual ini terdiri dari daftar masalah sekarang dan masa lalu serta catatan-catatan SOAP (Subjective, Objective, Assessment, dan Plan) untuk masalah-masalah yang maish aktif.

2.   Rangkuman data klinis untuk konsumsi manajer rumah sakit, pihak asuransi (data claim), kepala unit klinis, dan institusi terkailt sebagai pelaporan. Suatu rangkuman data klinis yang penting misalnya mengandung jumlah pasien rawat inap menurut cirri-ciri demografis, cara membayar, diagnosis dan prosedur operatif.

3.   Registrasi penyakit

Misalnya kanker, merupakan system informasi yang berbasis pada suatu komunitas atau wilayah administrative, mencakup semua kejadian penyakit tertentu (misalnya segala jenis kanker) di antara penduduk yang hidup d wilayah yang bersangkutan.

4.   Data Unit Spesifik

Suatu system informasi mungkin diperlukan untuk mengelola unit tertentu di rumah sakit. Sebagai contoh, unit-unit farmasi, laboratorium, radiology dan perawatan memerlukan data inventory bahan-bahan habis pakai dan utilisasi jenis-jenis pelayanan untuk merencanakan dan mengefisienkan penggunaan sumber daya.

5.   Sistem kepustakaan medis dan pendukung pengambilan keputusan klinis

Untuk menunjang keberhasilan pelayanan klinis kepada pasien diperlukan system untuk mengrahkan klinisi pada masalah spesifik, merekomendasikan keputusan klinis berbasis pada probabilitas kejadian tertentu.

6.   Paspor kesehatan (patient-carried records)

Rangkuman medis yang dibawa pasien memungkinkan pelayanan kesehatan darurat di tempat-tempat yang jauh dari rumahnya. Rekam medis ini mungkin dalam bentuk kertas, microfiche atau smartcard format.

 

Manfaat Rekam Medis

  1.       Aspek administrasi

Sebagai dasar pemeliharaan dan pengobatan pasien rekam medis dapat dipakai sebagai sumber informasi medis, alat komunikasi medis antar tenaga ataupun paramedic, alat komunikasi medis antar rumah sakit (rujukan)

  •       Hukum

Sebagai bahan pembuktian dalam perkara hokum, sebagai bukti tertulis untuk melindungi kepentingan pasien, dokter, dan rumah sakit

  •       Keunganan

Sebagai dasar perhtungan biaya layanan kesehatan sekaligus dasar analisa biaya pelayanan kesehatan

  •       Resit dan Edukasi

Sebagai bahan penelitian kesehatan dan pendidikan

  •       Dokumentasi

Bahan-bahan yang berasal dari catatan rekam medis dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan manajemen.

 

Namun seiring dengan kecanggihan teknologi yang akan diterapkan dalam teknik informasi dan keterlibatan profesi dalam memasuki paradigma baru tetap saja system rekam medik masa depan harus bertumpu pada setidaknyalimatujuan mendasar, yaitu :

  1. Rekam medik masa depan tetap harus menunjang pelayanan pasien dan memperbaiki kualitas pelayanan pasien.
  2. Sistem rekam medis harus menambah produktivitas professional pelayanan kesehatan dan mengurangi biaya administrative dan biaya pekerja (labor cost) yang dihubungi dengan pemberian pelayanan kesehatan dan pembiayaan.
  3. Rekam medis mendatang harus menunjang riset klinis dan pelayanan kesehatan
  4. Harus mampu mengakomodasi pengembangan ke depan teknologi pelayanan kesehatan, kebijakan, manajemen, dan keuanagan.
  5. Konfidentialitas pasien perlu mendapat perhatian serius dan harus dijaga selalu dalam mencapai tujuan-tujuan di atas.

 

Sumber      : Dr. dr. H. BoyS. Sabarguna, MARS, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit, Amanah, 2005

SMARTHIS

Apakah  SMARTHIS???

SMARTHIS adalah solusi sistem informasi rumah sakit yang sudah terintegrasi dari front office hingga ke back end office.

Berikut ini adalah diagram arsitektur SMARTHIS

Arsitektur Sistem Informasi Rumah Sakit SMARTHIS

Pada diagram arsitektur tersebut arus informasi dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

  • Arus informasi medical (digambarkan pada diagram dengan garis warna biru)
  • Arus informasi keuangan (digambarkan pada diagram dengan garis warna merah)
  • Arus informasi logistik (digambarkan pada diagram dengan garis warna hijau)

Kemampuan Umum

SMARTHIS didukung oleh modul-modul front office hingga back office dimana keseluruhan module tersebut sudah saling terkoneksi online untuk meminimalisasi kesalahan manual input dari operator.

SMARTHIS dikembangkan dalam platform Java desktop dan dapat di implementasikan pada lingkungan open source untuk menghemat biaya.  SMARTHIS dikembangkan dengan menggunakan MySQL database dengan platform Operating System Ubuntu Server.  Untuk client yang mengakses server dan memanggil aplikasi SMARTHIS ini dapat menggunakan Windows, MAC, Linux dengan menggunakan Internet browser.

Semua bentuk laporan baik yang bersifat operational ataupun financial juga dapat diakses dengan mudah.

Kemampuan Khusus

SMARTHIS di design dengan tingkat flexibilitas yang sangat tinggi dengan sistem parameter untuk mengantisipasi perubahan kebijakan di rumah sakit yang sangat dinamis.

Tingkat flexibilitas yang tinggi ini mencakup flexibilitas dalam membuat produk-produk untuk keperluan marketing seperti membuat berbagai paket medical check up, membuat berbagai model diskon maupun layanan charity, serta flexibilitas perhitungan jasa dokter.

Untuk sistem kemanan juga dapat di implementasikan berdasarkan hak otorisasi penggunaan menu dan hak per jenis kode transaksi.

Modul-modul front

Modul Invoice Jaminan

Modul invoice jaminan adalah modul back office pendukung aplikasi  sistem informasi rumah sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sbb :

  • Invoice Gabungan untuk Perusahaan/Asuransi  dan Provider Per-Pasien atau perperiode  dan langsung tercatat di Piutang.
  • Pembuatan Invoice  koreksi/dummy tanpa mengubah Invoice Asli dengan menu khusus (Per-Pasien / Gabungan).
  • Cetak Ulang, Cetak Kwitansi dan Rincian  Invoice Gabungan.
Modul Billing/Kasir

Modul billing adalah modul front office pendukung aplikasi sistem informasi Rumah Sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  • Satu Registrasi bisa dibuat beberapa invoice dengan Jenis Transaksi yang bisa dipilih.
  • Satu Invoice dengan 2 Pembayar. (sebagian jaminan dan sebagian Cash).
  • Invoice Jaminan dibayar Cash tanpa menghapuskan hak (discount) dari penjamin.
  • Batal Invoice dan Backdated Invoice dengan Hak Khusus.
Modul Rekam Medis (Medical Record)

Modul medical record adalah modul back office pendukung aplikasi sistem informasi rumah sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  • Menggunakan Standar ICD-10,ICD -9CM dan DTD
  • Input Tunggal per Nomer Medical record untuk semua kebutuhan Laporan MR
  • Laporan-Laporan Hospitals & DepKes
Modul Radiologi

Modul radiologi adalah modul front office pendukung aplikasi sistem informasi Rumah Sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  • Data dokter dan petugas Radiologi yang melakukan tindakan diinput untuk diperhitungkan pembagian jasanya (Satu Tindakan Multi operator).
  • Bahan /Film secara otomatis terhitung sesuai standar yang diset-up, dan dapat diinput kuantitas pemakaian sebenarnya.
  • Input dan Cetak Expertise
Modul Farmasi

Modul farmasi adalah modul front office pendukung aplikasi sistem informasi rumah sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  • Multi Lokasi Farmasi.
  • Pengisian Stock secara otomatis berdasarkan set-up minimum.
  • Stock Opname per Rak tanpa harus menghentikan operasional.
  • Pembelian darurat tanpa PO
Modul Laboratorium

Modul laboratorium adalah modul front office pendukung aplikasi sistem informasi Rumah Sakit  SMARTHIS dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  • Fleksibilitas dalam pengisian Nilai Normal. Nilai Normal tertentu berupa rumus yang bisa edit.
  • Nilai Normal hasil pemeriksaan bisa diedit tanpa mempengaruhi nilai normal standar Hospital.
  • Flag rujukan untuk setiap jenis pemeriksaan.
  • Interface untuk diintegrasikan dengan LIS (Laboratorium Information System).
Modul Jasa Dokter

Modul jasa dokter adalah modul front office pendukung aplikasi sistem informasi rumah sakit  SMARTHIS dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  • Setiap Dokter dapat dibuatkan rumus pembagian Pendapatan per jenis  Jasa/Tindakan atau berdasarkan Unitnya (RWJ,RWI,UGD,MCU) atau berdasarkan kelas rawat.
  • Rumus pembagian  bisa dibuat /diedit tanpa harus merubah program.(Teknologi Parsing).
  • Perhitungan Pendapatan Jasa rujukan dan Dokter Tim secara otomatis.
  • Tabel Slip jasa Dokter yang bisa didefinisikan tanpa merubah program.
  • Perhitungan pajak Dokter ,Dilengkapi tabel jasa/tindakan yang tidak kena Pajak
Modul Paket Rawat Jalan (RWJ)/Rawat Inap (RWI)

Modul paket rawat jalan/rawat inap adalah modul back office pendukung aplikasi sistem informasi rumah sakit  SMARTHIS dengan fitur-fitur sbb:

  • Membuat berbagai macam Paket untuk RWJ dan RWI yang berisi Jasa/Tindakan,Obat,Lab dengan berbagai variasi discount. ( mis : Paket Melahirkan,Paket Katerisasi jantung,Paket Circumsisi dll)
  • Tiap Transaksi dengan Registrasi Paket akan divalidasi ke ISI Master Paket dan Otomatis akan ditambahkan di Tagihan Pasien jika tidak terdaftar / Terjadi kelebihan Jasa/Obat.
  • Batal Transaksi Paket , diubah menjadi Registrasi Biasa  Seluruh Transaksi otomatis Terupdate  menjadi Harga Normal

Modul marketing

Modul marketing adalah modul back office pendukung aplikasi sistem informasi rumah sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sbb:

  • Manejemen kontrak, tiap perusahaan/asuransi dapat dibuatkan bermacam discount dan cakupan layanan yang dijamin untuk jasa/tindakan, lab, obat dan kamar. Discount bisa diberikan ke Pasien atau ke perusahaan/asuransi.
  • Sistem peringatan dini untuk setiap kode tindakan/jasa, obat/alkes, lab yang tidak ditanggung oleh penjamin (perusahaan/asuransi).
  • Membuat berbagai macam paket medical check-up untuk tiap perusahaan atau individu.

Modul Rawat Inap

Modul rawat inap adalah modul front office pendukung aplikasi sistem informasi Rumah Sakit  SMARTHIS dengan fitur-fitur sebagai berikut:

  • Manajement kamar/tempat tidur dengan status: Dipakai, Dipersiapkan, Terpakai
  • Flexibilitas dalam penentuan status kamar (misalnya: kamar kelas 1 dipakai sebagai kamar kelas 3)
  • Simulasi perhitungan rawat inap untuk yang berbeda dengan jaminan dan dapat di simulasikan tiap transaksi
  • Mark up jika mutasi dapat di tentukan untuk setiap tindakan
  • Backdated transaction dengan security log

Modul Perjanjian/Booking Appontment

Modul ini adalah module front office pendukung aplikasi sistem informasi Rumah Sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sbb:

  • Setiap dokter dapat ditentukan lama jam praktek per hari dan waktu/lamanya pemeriksaan per-pasien
  • Pengisian booking pasien per dokter sesuai waktu pemeriksaan atau secara berurutan
  • Auto registrasi pada saat pasien hadir
  • Otomatis menolak perjanjian jika dokter cuti
  • Mendukung pasien sisipan

Modul Registrasi Pasien

Modul registrasi pasien adalah modul front office pendukung sistem informasi Rumah Sakit SMARTHIS dengan fitur-fitur sbb:

  • Satu nomor registrasi tunggal untuk satu pasien dengan multi layanan: Unit Gawat Darurat (UGD), Rawat Inap (RWI), dan Rawat Jalan (RWJ)
  • Satu nomor registrasi  untuk layanan multi poliklinik
  • Parameter untuk tarif biaya administrasi (sekali bayar, atau biaya admin dibebankan sekali dalam 1 hari).  Biaya admin UGD dan RWJ dapat dibedakan.
  • Nomor urut pasien per dokter dengan auto reset
  • Jasa dokter dapat dibebankan secara otomatis dan dapat dibuat berbeda untuk tiap dokter
  • Registrasi paket (fisioterapi), pasien tidak dikenakan admin dan jasa dokter

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) berbasis web based

SIMRS merupakan sistem komputerisasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses bisnis layanan kesehatan dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara cepat, tepat dan akurat.

 

Sistim Informasi Manajemen (SIM) berbasis web based merupakan sarana pendukung yang sangat penting – bahkan bisa dikatakan mutlak – untuk operasional rumah sakit.

 

Berbagai pengalaman rumah sakit yang menggunakan sistim administrasi konvensional menunjukan banyaknya kehilangan kesempatan memperoleh laba akibat dari lemahnya koordinasi antar departemen maupun kurangnya dukungan informasi yang cepat, tepat, akurat, dan terintegrasi.

 

Review Sistim Informasi Manajemen (SIM) berbasis web based

Memberikan nilai tambah dengan meningkatkan:

  • Efisiensi
  • Kemudahan
  • Standard praktek kedokteran yang baik dan benar
  • Dokumentasi yang Auditable dan Accountable
  • Mendukung Pemasaran Jasa RS: Mutu, kecepatan, kenyamanan, kepastian, biaya, bahkan  gengsi pelayanan
  • Meningkatkan profesionalisme dan kinerja manajemen rumah sakit
  • Mendukung koordinasi antar bagian dalam rumah sakit
  • Meningkatkan akses dan pelayanan rumah sakit terhadap berbagai sumber daya, antara lain mitra usaha potensial seperi Pedagang Besar Farmasi, JAMSOSTEK, Instansi/Perusahaan  pemberi jaminan karyawannya, ASKES, dll

 

Meningkatkan profesionalisme manajemen rumah sakit :

1. Setiap unit akan bekerja sesuai fungsi, tanggung jawab dan wewenangnya;

  • Fungsi Pelayanan dan Informasi
  • Fungsi Perawatan (medical care)
  • Fungsi Penunjang/Supporting
  • Fungsi Administrasi dan Keuangan
  • Fungsi Pengawasan, dll

2.  Mendukung kerja sama, keterkaitan dan koordinasi antar bagian / unit             dalam rumah sakit

Contoh:

  • Unit Registrasi dengan Unit RM dalam hal Petugas RM dapat mengetahui secara real time pasien yang mendaftar di bag Registrasi.
  • Unit Registrasi dengan Unit Rawat Jalan.
  • Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Apotik/Farmasi dalam hal Resep Online dan informasi lainnya.
  • Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Laboratorium, Radiologi, IBS, Gizi, Farmasi, dan Keuangan dan sebaliknya.

 

Manfaat

1. Manfaat Operasional

Kecepatan

Ketika SIMRS tersebut selesai diimplementasikan manfaatnya adalah kecepatan penyelesaian pekerjaan-pekerjaan administrasi. Ketika dengan sistem manual pengerjaaan tagihan kepada mitra/pihak ke-3, misalnya, memakan waktu sampai 1 bulan sejak pasien selesai dilayani, dengan SIMRS hanya memakan waktu 1-2 hari saja.  Kecepatan ini tentu saja membuat efektifitas kerja meningkat.   Pada awal pemasangan SIM, ketika aliran kerja belum lancar, peningkatan kecepatan belum terlalu terasa.

Namun ketika komitmen seluruh unit untuk tepat waktu memasukkan data dengan akurasi entri data yang tinggi dipenuhi, maka akan terasa sekali dampak dari SIMRS terhadap kecepatan kerja.

 

Akurasi

Hal lain yang juga terasa berubah adalah akurasi data, apabila dulu dengan sistem manual orang harus mencek satu demi satu transaksi, namun sekarang dengan SIMRS hal tersebut cukup dilakukan dengan membandingkan laporan antar unit yang dihasilkan oleh SIM.

SIMRS juga dapat mencegah terjadinya duplikasi data untuk transaksi-transaksi tertentu. Misalnya, pasien yang sama diregistrasi 2 kali pada hari yang sama, maka SIMRS akan menolaknya, SIMRS juga akan memberikan peringatan jika tindakan yang sama untuk pasien yang sama dicatat 2 kali, hal ini menjaga agar user lebih teliti.

 

Integrasi

Hal lain yang juga terasa berpengaruh terhadap budaya kerja adalah integrasi data di setiap unit. Bila dengan sistem manual, data pasien harus dimasukkan di setiap unit, maka dengan SIMRS data tersebut cukup sekali dimasukkan di pendaftaran saja. Hal ini jelas mengurangi beban kerja adminstrasi dan menjamin konsistensi data.  Ilustrasi pada awal makalah ini merupakan gambaran proses integrasi pada beberapa unit layanan di rumah sakit.

 

Peningkatan pelayanan

Pengaruh SIMRS yang dirasakan oleh pasien adalah semakin cepat dan akuratnya pelayanan. Sekarang pasien tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan administrasinya, baik rawat inap ataupun rawat jalan.

Hal yang sama juga dirasakan perusahaan pelanggan, dimana tagihan yang dikirim cukup akurat dan detil sehingga memudahkan analisa mereka.

 

Peningkatan Efisiensi

Bila sebelumnya, beban pekerjaan lebih ke arah klerikal, sekarang beban pekerjaan lebih ke arah analisa. Sebagai contoh, jika dahulu konsentrasi bagian penagihan adalah membuat tagihan, sekarang konsentrasinya lebih kepada umur tagihan itu sendiri.   Selain itu, karena kecepatan dan akurasi data meningkat, maka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan administrasi berkurang jauh, sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan utamanya.

Tanpa SIM, perawat harus memasukan data standar asuhan keperawatan secara berulang-ulang dan sangat memakan waktu, tetapi dengan SIM, perawat hanya tinggal memasukan data diagnosa penyakit pasien, dan komputer yang akan mencetak laporan SAK untuk ditanda-tangani perawat.

 

Kemudahan pelaporan

Pekerjaan pelaporan adalah pekerjaan yang menyita waktu namun sangat penting. Dengan adanya SIM, proses pelaporan hanya memakan waktu dalam hitungan menit sehingga kita dapat lebih konsentrasi untuk menganalisa laporan tersebut.

 

2.  Manfaat Manajerial

Kecepatan mengambil keputusan

Dengan sistem manual, manajer seringkali mengambil keputusan berdasarkan informasi yang mungkin sudah tidak relevan lagi. Belum lagi jika yang dibutuhkan adalah trend berdasarkan selang waktu tertentu (harian/mingguan/dsb), ini mengakibatkan keputusan yang diambil belum tentu sesuai dengan kondisi nyata.  Namun dengan SIM, informasi yang disajikan bersifat real time, bahkan kita dapat membuat tabulasi dari informasi tersebut sehingga informasi yang kita dapat sudah sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan kita.

Hal ini tentu saja meningkatkan kualitas keputusan kita, di samping tentu saja berkurangnya waktu untuk mengambil keputusan.

 

Akurasi dan kecepatan Identifikasi masalah

Karena laporan-laporan yang dihasilkan SIMRS memberi gambaran dari hari ke hari mengenai kinerja rumah sakit, maka jika ada hal-hal yang tidak normal dapat segera kita ketahui. Hal ini membuat identifikasi potensi masalah dapat dilakukan lebih dini, sehingga tindakan pencegahan atau penanggulangannya dapat segera disusun.

 

Kemudahan penyusunan strategi

Sejalan dengan identifikasi masalah di atas, kita pun dapat menyusun strategi ke depan berdasarkan data populasi, bukan lagi statistik, karena SIMRS mampu memberikan data populasi dengan selang waktu tertentu, bahkan menyajikan kecenderungan datanya kepada kita. Ini tentu saja semakin menajamkan strategi yang kita susun.

 

3.  Manfaat Organisasi

Budaya Kerja

Karena SIMRS ini mensyaratkan kedisiplinan dalam pemasukan data, baik ketepatan waktu maupun kebenaran data, maka budaya kerja yang sebelumnya menangguhkan hal-hal seperti itu, menjadi berubah. Hal ini dapat terjadi karena integrasi SIMRS dengan seluruh unit layanan. Sebagai contoh, jika unit registrasi tidak memasukkan data pasien yang akan berobat, maka unit layanan tidak mungkin dapat memasukkan layanan kepada pasien tersebut, dan kasir pun tidak mungkin menerima pembayaran dari pasien tersebut.

Katakanlah semua unit sepakat untuk menangguhkan pemasukan datanya, maka keesokan harinya, manajer akan melihat penurunan trend pasien atau melihat ada pasien-pasien yang menggantung.Adajuga pengalaman menarik yang kami temukan dalam implementasi SIMRS di suatu Rumah Sakit, karena dasar perhitungan imbalan jasa medik untuk dokter dan perawat dihitung berdasarkan data transaksi yang ada di SIM, maka dokter yang berkepentingan dengan data tersebut menjadi supervisor data yang dimasukkan tanpa diminta.

Implikasinya adalah, sedikit sekali data yang salah dimasukkan.

 

Transparansi

SIMRS sebaiknya dirancang menganut kebijakan data terpusat, artinya data-data yang digunakan oleh seluruh rumah sakit berada di bawah satu kendali. Misalnya untuk data tarif tindakan, unit layanan tidak boleh dan tidak bisa memasukkan atau mengubah tarif yang ada, data yang mereka masukkan hanya layanan yang diberikan kepada pasien sehingga manipulasi tarif tidak dimungkinkan.   Hal lain lagi, pendapatan setiap unit layanan terlihat dari laporan harian yang selalu dilaporkan kepada direktur. Dengan demikian setiap orang dapat melihat jalannya proses transaksi di rumah sakit dan secara tidak langsung juga turut mengawasi proses tersebut.

 

Koordinasi antar unit (Team working)

Karena seringkali data yang digunakan oleh unit layanan tertentu adalah milik unit layanan yang lain, misalnya kode perusahaan pelanggan adalah milik keuangan yang digunakan secara intensif oleh medrec, maka ketika terjadi perubahan terhadap data tersebut, unit yang bersangkutan akan mengkoordinasikannya dengan unit yang terpengaruh. Apabila hal ini tidak dilakukan maka dengan sendirinya akan terjadi kekacauan data referensi.

 

Pemahaman sistem

Apabila dulu dengan sistem manual, sedikit sekali personel yang mengetahui atau perduli dengan proses yang terjadi di unit lain, maka dengan adanya SIMRS hal tersebut terjadi dengan sendirinya. Ini karena seringkali untuk memahami aliran data sampai datang kepada unitnya, melibatkan berbagai unit lain. Ketika terjadi kesalahan setiap user berusaha mencari tempat terjadinya kesalahan tersebut agar bukan unitnya yang disalahkan. Efeknya adalah mereka menjadi paham bagaimana sistem di rumah sakit tersebut bekerja.

 

Mengurangi biaya administrasi

Seringkali orang menyatakan bahwa dengan adanya komputerisasi biaya administrasi meningkat. Padahal dalam jangka panjang yang terjadi adalah sebaliknya, jika dengan sistem manual kita harus membuat laporan lebih dulu di atas kertas, baru kemudian dianalisa, maka dengan SIMRS analisa cukup dilakukan di layar komputer, dan jika sudah benar baru datanya dicetak. Hal ini menjadi penghematan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.

Implementasi SIMRS tentunya tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan semua pihak yang terkait serta political will dari pimpinan rumah sakit maupun pemilik RS / Pemerintah.

Apabila pekerjaan pengembangan SIMRS tersebut akan diserahkan kepada konsultan, maka kewajiban dan tanggung-jawab konsultan sebagai mitra kerja RS adalah harus secara profesional memberikan data dan analisa yang obyektif dan berupaya maksimal untuk keberhasilan implementasi SIMRS.

 

Fitur Aplikasi

FRONT OFFICE

A.  MODUL COSTUMER SERVICE

* Panel Antrian Registrasi

* Panel Informasi

* Pengaduan

B.  REGISTRASI

* Rawat Jalan

* Rawat Inap

* Unit Gawat Darurat [UGD]

C.  INFORMASI PASIEN

 

PELAYANAN PERAWATAN

* Antrian Layanan

* Pelayanan UGD

* Pelayanan Poliklinik / Rawat Jalan

* Pelayanan / Tindakan Rawat Inap

* Kamar Operasi / IBS

* Hemodialisa

* Rehab Medik dan Keterapian Fisik (Ortesis & Prostesa)

* Rawat Intensi dan Reanimasi (ICU, ICCU, NICU, BURN UNIT)

* Pelayanan Perawatan Lainnya

 

UNIT PELAYANAN PENUNJANG

A. LABORATORIUM

* Patologi Klinik

* Patologi Anatomi

8 / 10Sistem Informasi Rumah Sakit

B. RADIOLOGI

* Radio Terapi

* Radio Diagnostik

C. Pelayanan Transfusi Darah

D. Pelayanan Penunjang Lainnya

 

REKAM MEDIK

* Rekam Medik Pusat

* Rekam Medik Rawat Jalan

* Rekam Medik Rawat Inap

* Rekam Medik UGD

 

MANAJEMEN KEPERAWATAN

* Discharge Planning

* Asuhan Keperawatan

* Indikator Mutu Klinik

* Clinical Pathway

 

FARMASI & LOGISTIK

* Farmasi / Apotik

* Logistik (Inventory Medik dan Non Medik)

* Sistem Informasi Obat

 

PELAYANAN UMUM

* Pelayanan Gizi (Pelayanan Makanan, Diet, dan Konsumsi)

* Medical Check Up

* Ambulance

* Binatu dan Sterilisasi

* Forensik (Kamar Jenasah)

* Pemeliharaan Sarana Medik

 

AKUNTANSI & KEUANGAN

* Kasir / Pembayaran

* Pelayanan Piutang

* Mapping Tarif Pelayanan

* Remunerasi

* Inventarisasi Asset

* Akuntansi Keuangan

 

INFORMASI EKSEKUTIF

* Decision Support / Manajerial Report

* Indikator Pelayanan

* Visualisasi Data / Grafik

 

KEPEGAWAIAN

* Biodata Pegawai / Staff

* Agenda Kegiatan

* Warning

 

SYSTEM SUPPORT & UTILITY

* Data Administrator (Periksa, Rubah, dan Hapus)

* Setting Data Master

* Hak Akses & Password

* Back Up dan Restore Data

 

PORTAL TERINTEGRASI RUMAH SAKIT :

* Portal Public

* Portal Internal

* SMS Appliance

Elektrokardiograf

Definisi EKG
Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik jantung. Elektokardiogram adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung
Cara Menggunakan EKG untuk merekam listrik jantung :
Persiapan
A. Alat
  • Mesin EKG, yang dilengkapi :
  • kabel untuk sumber listrik
  • kabel untuk bumi (ground)
  • Kabel elektroda ekstremitas dan dada
  • Plat elektroda ekstremitas beserta karet pengikat
  • Balon penghisap elektroda dada
  • Jelly
  • Kertas tissue
  • Kapas Alkohol
  • Kertas EKG
  • Spidol
B. Pasien
  • Penjelasan (informed consent)
                     – Tujuan pemeriksaan
                     – Hal-hal yang perlu diperhatikan saat perekaman
  • Dinding dada harus terbuka dan tidak ada perhiasan logam yang melekat.
  • Pasien diminta tenang atau tidak bergerak saat perekaman EKG
Cara memasang EKG
1. Pasang semua komponen/kabel-kabel pada mesin EKG
2. Nyalakan mesin EKG
3. Baringkan pasien dengan tenang di tempat tidur yang luas. Tangan dan            kaki tidak saling bersentuhan
4. Bersihkan dada, kedua pergelangan kaki dan tangan dengan kapas alcohol      (kalau perlu dada dan pergelangan kaki dicukur)
5. Keempat electrode ektremitas diberi jelly.
6. Pasang keempat elektrode ektremitas tersebut pada kedua pergelangan            tangan dan kaki. Untuk tangan kanan biasanya berwarna merah, tangan          kiri berwarna kuning, kaki kiri berwarna hijau dan kaki kanan berwarna            hitam.
7. Dada diberi jelly sesuai dengan lokasi elektrode V1 s/d V6.
– V1 di garis parasternal kanan sejajar dengan ICS 4 berwarna merah
– V2 di garis parasternal kiri sejajar dengan ICS 4 berwarna kuning
-V3 di antara V2 dan V4, berwarna hijau
– V4 di garis mid klavikula kiri sejajar ICS 5, berwarna coklat
– V5 di garis aksila anterior kiri sejajar ICS 5, berwarna hitam
– V6 di garis mid aksila kiri sejajar ICS 5, berwarna ungu
1. Pasang elektrode dada dengan menekan karet penghisap.
2. Buat kalibrasi
3. Rekam setiap lead 3-4 beat (gelombang), kalau perlu lead II panjang (minimal 6 beat)
4. Kalau perlu buat kalibrasi setelah selesai perekaman
5. Semua electrode dilepas
6. Jelly dibersihkan dari tubuh pasien
7. Beritahu pasien bahwa perekaman sudah selesai
8. Matikan mesin EKG
9. Tulis pada hasil perekaman : nama, umur, jenis kelamin, jam, tanggal, bulan dan tahun pembuatan, nama masing-masing lead serta nama orang yang merekam
10.Bersihkan dan rapikan alat
Perhatian :
  • Sebelum bekerja periksa kecepatan mesin 25 mm/detik dan voltase 10 mm. Jika kertas tidak cukup kaliberasi voltase diperkecil menjadi ½ kali atau 5 mm. Jika gambaran EKG kecil, kaliberasi voltase diperbesar menjadi 2 kali atau 20 mm.
  • Hindari gangguan listrik dan mekanik saat perekaman
  • Saat merekam, operator harus menghadap pasien
  • Lead EKG
    Terdapat 2 jenis lead :
A. Lead bipolar : merekam perbedaan potensial dari 2 elektrode
  • Lead I : merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan kiri (LA) yang mana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri bermuatan (+)
  • Lead II : merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF) yang mana tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+)
  • Lead III : merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF) yang mana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+)
B. Lead unipolar : merekam beda potensial lebih dari 2 elektode
Dibagi 2 : lead unipolar ekstremitas dan lead unipolar prekordial
Lead unipolar ekstremitas
  • Lead aVR : merekam beda potensial pada tangan kanan (RA) dengan tangan kiri dan kaki kiri yang mana tangan kanan bermuatan (+)
  • Lead aVL : merekam beda potensial pada tangan kiri (LA) dengan tangan kanan dan kaki kiri yang mana tangan kiri bermuatan (+)
  • Lead aVF : merekam beda potensial pada kaki kiri (LF) dengan tangan kanan dan tangan kiri yang mana kaki kiri bermuatan (+)
    Lead unipolar prekordial : merekam beda potensial lead di dada dengan ketiga lead ekstremitas. Yaitu V1 s/d V6
    Kertas EKG
    Kertas EKG merupakan kertas grafik yang terdiri dari garis horisontal dan vertikal berbentuk bujur sangkar dengan jarak 1 mm. Garis yang lebih tebal (kotak besar) terdapat pada setiap 5 mm. Garis horizontal menggambarkan waktu (detik) yang mana 1 mm (1 kotak kecil) = 0,04 detik, 5 mm (1 kotak besar) = 0,20 detik. Garis vertical menggambarkan voltase yang mana 1 mm (1 kotak kecil) = 0,1 mV.
    Kurva EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi di atrium dan ventrikel. Proses listrik terdiri dari :
  • Depolarisasi atrium (tampak dari gelombang P)
  • Repolarisasi atrium (tidak tampak di EKG karena bersamaan dengan depolarisasi ventrikel)
  • Depolarisasi ventrikel (tampak dari kompleks QRS)
  • Repolarisasi ventrikel (tampak dari segmen ST)
Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P,Q,R,S dan T kadang-kadang tampak gelombang U.
EKG 12 Lead

Lead I, aVL, V5, V6 menunjukkan bagian lateral jantung
Lead II, III, aVF menunjukkan bagian inferior jantung
Lead V1 s/d V4 menunjukkan bagian anterior jantung
Lead aVR hanya sebagai petunjuk apakah pemasangan EKG sudah benar

Aksis jantung
axis ekg
Sumbu listrik jantung atau aksis jantung dapat diketahui dari bidang frontal dan horisontal. Bidang frontal diketahui dengan melihat lead I dan aVF sedangkan bidang horisontal dengan melihat lead-lead prekordial terutama V3 dan V4. Normal aksis jantung frontal berkisar -30 s/d +110 derajat.Deviasi aksis ke kiri antara -30 s/d -90 derajat, deviasi ke kanan antara +110 s/d -180 derajat.
Sekilas mengenai EKG Normal
clip_image002
clip_image002
Gelombang P
Nilai normal :
Lebar ≤ 0,12 detik
Tinggi ≤ 0,3 mV
Selalu (+) di lead II
Selau (-) di lead aVR
Interval PR
Diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar 0,12-0,20 detik.
Gelombang QRS (kompleks QRS)
Nilai normal : lebar 0,04 – 0,12 detik, tinggi tergantung lead.
Gelombang Q : defleksi negatif pertama gelombang QRS
Nilai normal : lebar < 0,04 detik, dalam < 1/3 gelombang R. Jika dalamnya > 1/3 tinggi gelombang R berarti Q patologis.
Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Umumnya di Lead aVR, V1 dan V2, gelombang S terlihat lebih dalam, dilead V4, V5 dan V6 makin menghilang atau berkurang dalamnya.
Gelombang T
Merupakan gambaran proses repolirisasi Ventrikel. Umumnya gelombang T positif, di hampir semua lead kecuali di aVR
Gelombang U
Adalah defleksi positif setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebabnya timbulnya gelombang U masih belum diketahui, namun diduga timbul akibat repolarisasi lambat sistem konduksi Interventrikuler.
Interval PR
Interval PR diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar antara 0,12 – 0,20 detik ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi Atrium dan jalannya implus melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi Ventrikuler
Segmen ST
Segmen ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan gelombang T. segmen ini normalnya isoelektris, tetapi pada lead prekkordial dapat berpariasi dari – 0,5 sampai +2mm. segmen ST yang naik diatas garis isoelektris disebut ST eleveasi dan yang turun dibawah garis isoelektris disebut ST depresi
Cara menilai EKG
  • Tentukan apakah gambaran EKG layak dibaca atau tidak
  • Tentukan irama jantung ( “Rhytm”)
  • Tentukan frekwensi (“Heart rate”)
  • Tentukan sumbu jantung (“Axis”)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda hipertrofi (atrium / ventrikel)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda kelainan miokard (iskemia/injuri/infark)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda gangguan lain (efek obat obatan, gangguan keseimbangan elektrolit, gangguan fungsi pacu jantung pada pasien yang terpasang pacu jantung)
1. MENENTUKAN FREKWENSI JANTUNG
Cara menentukan frekwensi melalui gambaran EKG dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :
a.  300 dibagi jumlah kotak besar antara R – R’
b. 1500 dibagi jumlah kotak kecil antara R – R’
c. Ambil EKG strip sepanjang 6 detik, hitung jumlah gelombang QRS dalam 6 detik tsb kemudian dikalikan 10 atau ambil dalam 12 detik, kalikan 5
2. MENENTUKAN IRAMA JANTUNG
Dalam menentukan irama jantung urutan yang harus ditentukan adalah sebagai berikut
– Tentukan apakah denyut jantung berirama teratur atau tidak
– Tentukan berapa frekwensi jantung (HR)
– Tentukan gelombang P ada/tidak dan normal/tidak
– Tentukan interval PR normal atau tidak
– Tentukan gelombang QRS normal atau tidak
Irama EKG yang normal implus (sumber listrik) berasal dari Nodus SA, maka irmanya disebut dengan Irama Sinus (“Sinus Rhytem”)
Kriteria Irama Sinus adalah :
– Iramanya  teratur
– frekwensi jantung (HR) 60 – 100 x/menit
-Gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gel QRS, T
– Gelombang QRS normal (0,06 – <0,12 detik)
– PR interval normal (0,12-0,20 detik)
Irama yang tidak mempunyai criteria tersebut di atas kemungkinan suatu kelainan

Theranostic Nanoagents

Perkembangan tekhnologi di muka bumi ini bergerak sangat cepat secara mengagumkan. Berbagai temuan tekhnologi bergantian mengganti tehnologi lama yang semakin usang. Demikian juga tekhnologi di bidang kedokteran, pergerakan cepat ini selalu terjadi setiap saat. Khususnya dalam hal diagnosis penyakit,tekhnologi yang berkembang sangat pesat.

Ilmu kedokteran yang bersendikan berbagai ilmu dasar di era supermodern ini seolah tak tertahankan supremasinya. Ilmu dasar seperti biologi, kimia dan fisika serta matematika menjadi “tuan besar” melalui cerobong ilmu kedokteran atau tepatnya ilmu biomedik. Sebagaimana “kedigdayaan” ilmu pengetahuan alam yang bertetangga dengan ilmu pasti, melalui “tuan besar” tadi kedokteran muncul sebagai ilmu penentu masa depan. Kedokteran menjadi peramal. Prediktif. Apalagi setelah dikemas dalam bentuk teknologi. Ini rumusan “kesombongan” segenap ilmuwan di jagad raya ini, khususnya yang pengikut sekularisme. Ilmu menjadi bebas nilai.
Ketika para ilmuwan medik telah piawai dengan teknologi pemotongan gen, penggantian struktur di dalamnya melalui teknologi nano, lalu menggantinya dengan gen yang lain (memindahkan inti sel), maka sosok manusia dan segenap mahluk hidup di jagad raya ini tinggal menjadi “hilir” belaka. Kehidupan berpindah di sebelah “hulu”, yakni dalam bentuk interaksi gen-gen. Jauh dari kasat mata. Informasi genetik yang terbungkus dalam genom atau proteomic menjadi daerah perburuan usaha baru.
Sekaligus peta-peta genetik tadi menimbulkan kehingar-bingaran kompetisi para ilmuwan biomedik dalam suatu kreativitas seolah tanpa batas. Namun mereka sering lengah, akibat keketatan persaingan untuk menemukan yang serba baru dari kotak-katik info genetik tersebut. Lengah bahwa teknologi nanogenetik manusia senantiasa dikritisi oleh  seberapa jauh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut mampu menjawab persoalan etika, hukum dan implikasi sosialnya.
Peta genetik manusia yang sebentar lagi akan tuntas diperoleh melalui human genome project karena letaknya di “hulu” akan terus dibombardir oleh kritik sejak tujuan dan cara melakukan risetnya. Pertanyaan etis akan terus muncul kepada diri ilmuwan, institusi kerjanya serta negara pelindung atau penggeraknya. “Apa maslahat diperlukannya perlindungan manusia dari ekses terkompilasinya peta genetik komplit itu

Information Technology (IT) memainkan peranan penting dalam perkembangan tekhnologi diagnosis kedokteran di masa depan.

Bioinformatika

Bioinformatika Kedokteran ditopang oleh dua ilmu dasar, yaitu Biosensor dan Bioinformatika. Biosensor adalah ilmu untuk mendeteksi perubahan kuantitatif dan kualitatif dari suatu sampel biokimia. Bioinformatika adalah ilmu gabungan antara Biologi Molekular dan IT.

Biosensor merupakan suatu alat instrumen elektronik, yang bekerja untuk mendeteksi sampel biokimia. Contoh paling sederhana dari aplikasi biosensor adalah alat uji diabetes. Saat ini kit uji diabetes telah dijual bebas di apotik-apotik.

Prinsip uji diabetes adalah mempergunakan enzim untuk mendeteksi kelebihan kadar glukosa dalam darah. Enzim tersebut ditautkan kepada suatu sistim elektronik, sehingga kelebihan gula darah bisa dideteksi secara kuantitatif. Detektor tersebut mendeteksi perubahan elektronik, yang diinduksi oleh reaksi biokimiawi yang dikatalisis oleh enzim.

Bionformatika merupakan penggunaan IT untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan Biologi Molekular. Sepanjang sejarahnya, eksperimen biologi molekular telah mengumpulkan banyak sekali data ekspresi genetis. Dalam konteks kedokteran, data-data tersebut diambil dari sampel pasien.

Data dalam jumlah banyak tersebut, perlu diolah menjadi informasi yang berguna. Bioinformatika bertugas untuk mengolah data-data genetis tersebut, menjadi informasi yang berguna secara kedokteran, misalnya untuk keperluan diagnostik dan terapi terhadap penyakit.

Salah satu aplikasi konkrit dari bioinformatika adalah desain primer untuk mendeteksi keberadaan mikroba patogen, desain primer untuk mendeteksi kelainan genetis (uji genetis) dan desain vaksin untuk mencegah berbagai penyakit. Software yang digunakan pada umumnya bersifat open source, seperti Bioedit, Clustal, Deep-View, Pymol, dan Treeview32.

Penggunaan software tersebut tidak dipungut biaya, selama digunakan dalam lembaga akademik dan penelitian. Jurnal internasional Bioinformatika telah diterbitkan, contohnya Oxford Journal of Bioinformatics.

Kedua ilmu dasar tersebut akan menjadi penyangga utama informatika kedokteran biomedis, seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.

Diagnosis  Biomedis Genetik

Di Amerika Serikat, uji genetis mulai menjadi populer. Dalam beberapa kasus ekstrim, jika seorang pasien didiagnosa akan menderita kanker payudara dalam beberapa tahun ke depan, maka sang pasien akan menyetujui tindakan medis untuk mengangkat payudara. Ini sebagai tindakan preventif sebelum kanker terjadi. Uji genetis juga dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit keturunan lainnya, seperti sindrom down, huntington, atau sicke cell.

Prinsip Uji genetis adalah kombinasi  ilmu biosensor dan bioinformatika. Bioinformatika bertugas untuk mencari kelainan genetis pada sekuens DNA atau protein yang umum ditemui pada pasien atau conserve region.

Software yang digunakan pada umumnya adalah Bioedit dan Clustal. Jika pola/pattern sudah ditemukan, maka pola tersebut akan dijadikan template untuk membentuk sistim biosensor genetis. Proses pencarian pola dimulai dengan penjajaran sekuens DNA pada editor teks, kemudian proses multiple sequence alignment di Clustal, dan pencarian conserve region di Bioedit. Semua dilakukan dengan aplikasi komputer.

Pembentukan instrumen biosensor tentu saja berbeda dengan biosensor konvensional, seperti pada sensor diabetes. Pada biosensor untuk uji genetis, yang ditautkan ke sistim elektronik bukanlah enzim, namun DNA template yang ditemukan secara komputasi. Sistim biosensor ini disebut juga sebagai DNA Biochips.

IT berperan sangat kuat dalam pencetakan DNA Biochips. Jika dalam praktik IT sehari-hari, kita menggunakan program pengolah kata, seperti Open Office atau Neo Office, dan kemudian dokumen hasil pengolahan tersebut di print, maka pencetakan DNA Biochips juga serupa. Ada aplikasi yang bertugas untuk mendesain model DNA biochips secara komputasi, dan ada printer khusus untuk mencetak DNA biochips.

Dokter akan menggunakan DNA biochips secara langsung untuk mendeteksi kelainan genetis pada pasien. Sampel darah diambil dari pasien secara langsung, dan ditorehkan pada DNA biochips. Lalu chips tersebut akan dimasukkan kedalam scanner yang terhubung dengan komputer, untuk mendeteksi kelainan genetis yang terjadi. Ada aplikasi yang bertugas untuk membaca DNA biochips yang telah tertoreh sampel darah. Jika conserve region dari DNA sampel sama dengan DNA template, maka bisa dipastikan terjadi kelainan genetis. Prinsip sederhana DNA biochips adalah seperti itu.

Di masa depan  kedokteran klinis juga ditopang secara penuh oleh berbagai perkembangan dunia IT, seperti open source, user friendly GUI, dan multi core processor. Bioinfomatika kedokteran akan semakin berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pasien secara langsung.

Masa depan Theranostic nanoagents

Kemampuan untuk menciptakan agen menggabungkan beberapa fungsionalitas, termasuk dimanfaatkan untuk penargetan, pencitraan dan terapi, merupakan salah satu keuntungan utama nanomedicine. Secara khusus, kombinasi diagnostik dan terapeutik moieties ke theranostic nanoagents Nanomaterials ini menganugerahkan atas kemampuan yang unik. Karena sebagian besar fleksibilitas bahan-bahan tersebut, serta aplikasi potensi mereka, minat dalam sintesis dan utilitas dengan cepat meningkat.

Theranostic nanopartikel mudah dapat disintesis diberi sifat modular pendekatan sintetis. Dari sudut pandang ini, penciptaan agen ini tampaknya perkembangan logis dari partikel yang dirancang semata-mata untuk pencitraan atau terapi, seperti teknik digunakan untuk sintesis mereka telah mapan. Juga, mengingat area permukaan besar  ratio nanopartikel, penargetan tambahan ligan, farmakokinetik pengubah atau fungsi lain dapat disertakan hampir ad libitum.

Dari sudut pandang klinis, theranostic Nanomaterials memiliki keuntungan yang sangat dahsyat, termasuk utilitas akhir mereka di simultan diagnosis dan pengobatan penyakit. Selain itu, mereka mengijinkan untuk mekanisme umpan balik dalam rangka untuk menentukan lokasi, lepaskan atau kemujaraban dari terapi memasukkan agen. Juga, kombinasi dari pencitraan dan terapi multimodal moieties memungkinkan pemeriksaan agen biodistribution.

Sejumlah penelitian telah diterbitkan tentang topik ini. Sebagai contoh, Nasongkla telah menggambarkan sintesis polimer peka pH-micelles mengandung oksida besi superparamagnetic nanopartikel dan doksorubisin, sebuah anthracycline digunakan dalam kemoterapi kanker, yang ditargetkan untuk αvβ3-integrin melalui RDG siklik moieties. Nanopartikel Magnetofluorescent oksida besi juga telah dimanfaatkan sebagai kendaraan untuk pengiriman sejumlah theranostic konstruksi, termasuk yang digunakan dalam terang-diaktifkan [2,3] dan siRNA berbasis terapi. Bergantian, Bhatia  telah meneliti sejumlah metodologi untuk pengiriman target siRNA menggunakan titik kuantum .

Meskipun antusiasme ini, nanopartikel theranostic juga menghadapi tantangan yang cukup besar. Salah satu dilema yang segera ditemui dalam perumusan nanoagents ini adalah kebutuhan untuk mendamaikan ketidaksesuaian antara dosis yang diperlukan untuk pencitraan dan terapi. Contoh yang paling ekstrim akan menjadi kasus radionuklida-berlabel theranostic nanopartikel. Sebagai perbandingan, dosis pencitraan 18F fluorodeoxyglucose adalah 0,5-1 μg / kg berat badan (dengan maksimum 9,3 μg / kg berat badan) [7], sedangkan doksorubisin dosis rata-rata adalah 2 mg / kg. Jika digabungkan dalam nanoscaffold yang sama, mungkin pasien tidak akan menerima dosis terapeutik doksorubisin pada dosis maksimum yang diperbolehkan 18F. Sebaliknya, theranostic nanoagents diformulasikan untuk MRI menggunakan gadolinium mungkin membutuhkan sampai 100 mg / kg gadolinium chelate (didasarkan atas dosis klinis Magnevist ®) dalam rangka untuk memastikan kontras memadai. Untuk mencegah toksisitas akut, pemuatan persentase dari entitas terapeutik dengan demikian akan harus menurun, sehingga mengurangi potensi masing-masing nanopartikel.

Perbedaan antara pencitraan dan terapi bagian nanoagents 

Penggunaan bahan-bahan yang secara intrinsik berlaku untuk kedua pencitraan dan terapi, seperti emas nanoshells dan nanorods, yang dapat dideteksi oleh tomografi koherensi optik, atau superparamagnetic nanopartikel besi oksida, yang berfungsi sebagai agen MRI yang sangat baik. Nanoagents ini juga menemukan utilitas dalam jaringan yang sakit thermoablation ketika disinari dengan bentuk yang tepat energi; dipanaskan di atas 46 ° C, proses-proses seluler normal jaringan berhenti, menyebabkan kematian sel [8,9]. Teknik ini akan, pada permukaannya, tampaknya sederhana. Namun, sangat sulit untuk memberikan dosis panas yang sesuai untuk jaringan target tanpa melibatkan jaringan sehat sekitarnya. Dengan demikian, nanoagents telah diselidiki dalam rangka untuk meningkatkan kekhususan dan kemanjuran metodologi ini.

Selain dari bahan yang secara intrinsik theranostic, seleksi yang hati-hati diagnostik dan terapeutik pasangan yang dibutuhkan. Hal ini memastikan bahwa dosis yang diperlukan untuk keuntungan terapeutik sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk memantau lokalisasi nanoagent . Kecanggihan nanoagents ini dapat lebih ditingkatkan dengan dimasukkannya afinitas ligan, seperti antibodi, peptida, atau bahkan aptamers molekul kecil. Hal ini menghasilkan target yang lebih tinggi-untuk-latar belakang dan penurunan rasio toksisitas sistemik. Penargetan dengan demikian bisa dimanfaatkan untuk memodulasi pemberian dosis yang diperlukan untuk keberhasilan. Salah satu strategi lebih lanjut melibatkan masuknya prodrugs atau terang-diaktifkan terapi, seperti photosensitizers. Metodologi ini memungkinkan penciptaan agen yang hanya aktif dalam kehadiran stimulus tertentu, seperti enzim atau cahaya tertentu, lebih meningkatkan spesifisitas.

Salah satu tantangan terakhir, yang sering terabaikan, adalah bahwa theranostic nanoagents hanya akan digunakan dalam situasi tertentu, karena tidak perlu untuk memberikan pencitraan agen setiap kali seorang pasien menerima terapi. Satu peringatan untuk pernyataan ini terletak pada utilitas probe yang sudah diaktifkan pada pengiriman dari agen terapeutik. Sebagai contoh, Bagalkot et al. menggambarkan sintesis-bifluorescence perpindahan energi resonansi membangun berdasarkan kuantum dot-aptamer konjugat . Ketika dimuat dengan doksorubisin, yang membangun adalah nonfluorescent. Setelah sasaran lokalisasi dalam sel, kemoterapi dilepaskan dan mendapatkan kembali penyelidikan yang fluoresensi, memungkinkan untuk memonitor pengiriman obat.

Therapeutic rezim melibatkan theranostic nanopartikel dapat dengan demikian melibatkan injeksi suatu multimodal nanoagent untuk intervensi awal, diikuti dengan penggunaan nanopartikel terapeutik yang ketat. Mungkin juga berpendapat bahwa pencitraan dan terapi terpisah berdasarkan partikel nanoplatform yang sama dapat secara simultan bersama-disuntikkan. Masalah utama dengan strategi ini adalah bahwa ia telah sebelumnya menunjukkan bahwa modifikasi kecil dari formulasi nanopartikel dapat sangat mempengaruhi biodistribution, sehingga colocalization di situs target tidak akan dijamin .

Sementara sejumlah besar theranostic nanoagents telah dideskripsikan menggunakan banyak dari strategi yang dibahas di atas, relatif sedikit telah diselidiki untuk in vivo keampuhan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya akses ke model hewan yang relevan atau kolaborasi yang kuat dengan orang lain dengan keahlian di bidang yang sesuai. Sayangnya, hal ini memperlambat penyebaran pengetahuan ke masyarakat yang lebih besar untuk nanomedicine jenis desain yang menunjukkan utilitas, yang mungkin selanjutnya mempengaruhi masa depan iterasi dari theranostic nanoagents. Hal ini juga menyebabkan kesenjangan antara aspek nanomaterial sintetis desain, dan potensi mereka utilitas in vivo.

Terlepas dari tantangan yang disajikan di atas, wajah theranostic nanoagents semakin besar hambatan peraturan. Hal ini disebabkan, sebagian, dengan kenyataan bahwa mereka terdiri dari banyak komponen yang berbeda, masing-masing yang harus ditunjukkan untuk menjadi bio-kompatibel. Secara khusus, nanoscaffolds dimanfaatkan perlu mengalami toksisitas dan bio-kompatibilitas luas pengujian, karena ada kekurangan data mengenai struktur-hubungan properti nanopartikel sehubungan dengan ukuran dan permukaan akhir mereka sifat dan interaksi di dalam lingkungan vivo.

Theranostic nanoagents memiliki potensi untuk lebih meningkatkan diagnosis dan pengobatan penyakit, karena mereka menyediakan penggabungan beberapa fungsionalitas, termasuk dimanfaatkan untuk penargetan, pencitraan dan terapi, dalam satu nanoscaffold. Namun, sejumlah pertanyaan yang harus dijawab sebelum lapangan dapat bergerak melampaui masa kanak-kanak, termasuk ketika nanoagents harus digunakan dan bagaimana pemberian dosis yang paling cocok dari komponen diagnostik dan terapeutik. Paling penting, ada kebutuhan untuk merumuskan ilmuwan nanopartikel persiapan untuk mendamaikan mereka metodologi sintetis dengan klinis utama utilitas dari nanoagents. Hal ini hanya dapat dicapai melalui pengembangan berbuah kolaborasi dengan para ilmuwan dan dokter di luar bidang yang mereka pilih. Mengingat tantangan-tantangan ini, bidang theranostics sedang berkembang pesat, dan, seperti anak kecil, pasti akan sejumlah benjol dan memar seperti menemukan jalan.

System Informasi Dalam System Jaminan Kesehatan

BBC, 24 Maret 2010, Presiden Barack Obama menandatangani RUU kesehatan yang penting menjadi UU di Gedung Putih.

UU ini memperluas jaminan asuransi untuk sekitar 32 juta warga Amerika yang belum memilikinya.

Obama mengatakan menandatangani RUU ini untuk orang-orang seperti ibunya “yang berdebat dengan perusahaan asuransi sekali pun dia menghadapi kanker pada hari-hari terakhirnya.”

RUU ini ditentang keras anggota Partai Republik yang mengatakan UU ini terlalu mahal. Obama mengatakan,”RUU yang saya tandatangani akan mendorong reformasi yang diperjuangkan beberapa generasi rakyat Amerika.”

RUU reformasi kesehatan tersebut konon menelan biaya US$938 miliar.

(Kompas), Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih  menyatakan bahwa keluarnya UU tersebut merupakan terobosan luar biasa bagi pelayanan kesehatan di negeri yang berideologi kapitalisme dan kebebasan individu ini. Bu Menteri juga memberikan sedikit pembelaan bahwa Indonesia belum bisa segera mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Barack Obama.

Mengapa belum bisa ???

Persoalan terberat mewujudkan universal coverage di Indonesia adalah isu Jamkesos belum menjadi priority issue di tingkatan Kepala Pemerintahan. Perbedaan ini bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan  keseriusan Barack Obama dalam memperjuangkan UU Kesehatan. Obama bukan saja berbicara pada dataran konseptual, pada tingkat persiapan implimentasi pun  menjadi isu yang penting baginya.

Salah satu isu yang dianggap penting oleh Barack Obama adalah penggunaan Teknologi Informasi  dalam Kesehatan. Salah satunya pada CNNMoney.com yang menuliskan Obama’s big idea: Digital health record. “This will cut waste, eliminate red tape, and reduce the need to repeat expensive medical tests,” said Obama. “It just won’t save billions of dollars and thousands of jobs — it will save lives by reducing the deadly but preventable medical errors that pervade our health care system,” he added. Dan, “Obama’s support for electronic medical records is one of the key efforts of health reform that actually will deliver lower costs for hard-working American families,” said Larry McNeely.

Obama telah melihat bagaimana sulitnya persiapan penggunaan IT dalam Kesehatan yang harus diselesaikan jika ingin menerapkan Jaminan.

Kesehatan Sosial yang universal coverage. Bayangkan saja, untuk Amerika yang sudah jauh lebih maju dalam penggunaan Komputer hanya 8% dari 5.000 RS Pemerintah dan 17% dari 8.000 dokter nya yang menggunakan pencatatan Record dengan sistem komputerisasi. Persoalan lain adalah kurangnya tenaga terampil dalam penerapan IT di Kesehatan. Belum lagi dengan tidak terlalu pedulinya kalangan dokter dengan mekanisme komouterisasi di sistem kesehatan.

Bagaimana dengan Indonesia ???

Inilah mungkin salah satu tantangan terbesar mengintegrasikan IT dalam Jaminan Kesehatan Sosial Nasional.

IT dan Asuransi Kesehatan

            Yaslis Ilyas (Dalam Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan Bagian B, 2005) menyatakan paling tidak ada lima manfaat IT dalam Asuransi Kesehatan. Yaitu :

  • Pertama, mendorong lebih murahnya biaya administrasi. Biaya Administrasi yang biasanya muncul dalam 3 tahapan, yaitu pengeluaran untuk pemasaran, pengeluaran untuk underwriting, dan pengeluaran untuk penanganan klaim akan dapat ditekan secara maksimal.  Pemasaran dan Underwriting mungkin tidak terlalu penting di era Asuransi Sosial, akan tetapi tetap bisa dialokasikan untuk mensosialisasikan pentingnya Jaminan Kesehatan Sosial ke masyarakat.
  • Kedua, lebih efisien dikarenakan lebih bannyak klaim yang dapat diproses dengan biaya yang dikeluarkan. Dengan IT, proses klaim di daerah-daerah terpencil pun dapat dengan cepat diverifikasi oleh tim verifikator yang terpusat.
  • Ketiga, menyediakan perubahan informasi yang cepat untuk proses klaim kesehatan.
  • Keempat, menghasilkan format standart diantara seluruh Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) yang menyampaikan dan membayar klaim asuransi, dan
  • kelima, dapat dilakukan cost containment  sehingga dapat menghemat pembiayaan kesehatan secara keseluruhan. Hal ini dkarenakan memudahkan dilakukannya Utilitation Review.

IT dan Road Map

Yang menarik pula dari tulisan Bu Menteri dalam Road Map Jaminan Kesehatan Sosial Nasional adalah “Untuk mencapai sistem Jaminan Kesehatan Sosial Nasional tidak cukup hanya memperluas cakupan kepesertaan, diperlukan kesiapan-kesiapan infrastruktur yang matang”.

Apa yang dimaksudkan oleh Bu Menteri dengan Kesiapan infrastruktur dalam IT ? Untuk memudahkan pemahaman kita terhadap harapan Bu menteri tersebut, dapat dibayangkan dengan rencana pemerintah membangun infrastruktur jalan.  Dibutuhkan banyak persiapan, perencaan, pengorganisasin, keterlibatan banyak stakeholders, sumber daya manusia, dan pembiayaan.Dan salah satu yang penting dari hal-hal penting tersebut adalah mengintegrasikan teknologi informasi dalam Jaminan Kesehatan Sosial.

Alhamdulillahnya, jika diperhatikan Road Map Jaminan Kesehatan Sosial Nasional yang dipersiapkan oleh Kementerian Kesehatan,  telah memasukkan IT dalam salah satu blok yang akan diperhatikan.  Sehingga perlu dipersiapkan secara serius pengintegrasian tersebut, sehingga ketika pengorganisasian telah siap maka IT segera dapat berjalan.

IT, Kepesertaan dan COBIT

            Banyak isu penting terhadap penerapan IT dalam Jaminan Kesehatan Sosial.  Belajar dari keberhasilan PT. Askes dalam menerapkan Bridging System yang disampaikan oleh Kemal Imam Santoso, Wakil Dirut dan CIO PT Askes bahwa Proyek integrasi system IT di PT. Askes yang dinamakan dengan  Bridging System bertujuan menjalankan electronic data processing antara PT Askes dan RS mitranya. Sekarang PT. Askes dapat merasakan benefit dari Bridging System tersebut. Terutama, dalam hal peningkatan produktivitas dan perbaikan efisiensi. Dalam pelayanan administrasi kepesertaan terjadi peningkatan dari 10 menit menjadi 2 menit.

Dari pengalaman tersebut di atas, kita bisa melihat bersama bahwa system infromasi sangat memegang peranan penting dalam system jaminan kesehatan.

Dampak Negatif Perkembangan Teknologi Terhadap Kesehatan

Kemampuan teknologi dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan tidak menutup kemungkinan juga akan menimbulkan dampak negatif.  Yaitu timbulnya penyakit-penyakit baru, baik langsung maupun tidak langsung.

 Efek Radiasi yang Berpotensi Menghasilkan Penyakit Baru

Salah satu contoh adalah penyakit kanker yang kita ketahui bersama bahwa hingga saat ini penyakit tersebut belum memiliki obat yang bisa mendeteksi hingga tercapainya suatu kesembuhan yang sempurna bagi para penderitanya. Selain itu unsur zat radioaktif yang digunakan untuk mengobati penderita kanker juga dapat menimbulkan radiasi yang berbahaya, dan tentunya hal tersebut menjadi cikal bakal suatu penyakit baru yang berbahaya.

Begitu halnya dengan alat komunikasi yang sering kitagunakan. Sejumlah penelitian yang dilakuan menunjukkan radiasi telepon genggam berakibat buruk terhadap tubuh manusia. Misalnya meningkatkan risiko terkena tumor telinga dan kanker otak, berpengaruh buruk pada jaringan otak, merusak dan mengurangi jumlah sperma hingga 30 persen,mengakibatkan meningioma, neurinoma akustik, acoustic melanoma, dan kanker kelenjar ludah. Sayangnya, tak satu pun 6 vendor telepon seluler terbesar dunia merespon hasil-hasil penelitian tersebut.

Meski belum ada kepastian terhadap hasil penelitian ini, pimpinan proyek penelitian FranzAdlkofer menyarankan tindakan pencegahan dengan menganjurkanpenggunaan telepon genggam hanya dalam keadaan darurat saja. Artinya,kalau di sekitar Anda tersedia telepon biasa sebaiknya Anda menghindari memakai telepon seluler. Atau, menggunakan peralatan hands-free kapan saja memungkinkan.

Begitu pula dengan halnya computer yang beregenerasi menadi laptop. Mata adalah organ tubuh yang paling mudah mengalami penyakit akibat kerja, karena terlalu sering memfokuskan bola mata ke layar monitor. Tampilan layar monitor yang terlalu terang dengan warna yang panas seperti warna merah, kuning, ungu, oranye akan lebih mempercepat kelelahan pada mata. Selain dari itu, pantulan cahaya (silau) pada layar monitor yang berasal dari sumber lain seperti jendela, lampu penerangan dan lain sebagainya, akan menambah beban mata. Pencahayaan ruangan kerja juga berpengaruh pada beban mata.

Pemakaian layar monitor yang tidak ergonomis dapat menyebabkan keluhan pada mata. Berdasarkan hasil penelitian, 77% para pemakai layar monitor akan mengalami keluhan pada mata, mulai dari rasapegal dan nyeri pada mata, mata merah, mata berair, sampai pada iritasi mata bahkan kemungkinan katarak mata.

Bila operator komputer menggunakan soft lens (lensa mata), kelelahan mata akan lebih cepat terasa, karena mata yang dalam keadaan memfokuskan ke layar monitorakan jarang berkedip sehingga bola mata cepat menjadi kering dan ini menyebabkan timbulnya gesekan antara lensa dan kelopak mata. Ruang berpendingin (AC) akan lebih memperparah gesekan tersebut, karena udara ruangan ber AC akan keringsehingga air mata akan ikut menguap.

Menurut hasil penelitian, untuk operator komputer yang bekerja 8 jam per hari terus menerus, ternyata radiasi yang keluar dari komputer (khususnya sinar-X) sangat rendah yaitu sekitar 0,01739 m Rem per tahun. Harga tersebut jauh lebih rendah dari pada radiasi yang berasal dari sinar kosmis dan dari radiasi bumi (terresterial radiation) yang berkisar 145 m Rem per tahun. Sedangkan laju dosis radiasi yang diizinkan untuk masyarakat umum adalah 500 m Rem per tahun. Akhir-akhir ini banyak dijual kacafilter untuk layar monitor yang dipromosikan sebagai filter radiasi yang keluar darikomputer. Kaca filter yang dijual di pasaran lebih sesuai sebagai filter kesilauan (glare) dari cahaya layar komputer, bukan sebagai filter radiasi.

Efek Ketergantungan

Teknologi yang kian berkembang juga dapat menimbulkan timbal balik yang bersifat negatif seperti sifat ketergantungan.Parapengkonsumsi obat antibiotik yang banyak beredar di masyarakat ternyata tidak semata-matahanya mengurangi keluhan yang ada tetapi juga menimbulkan ketergantungan dengan intensitas yang berbeda-beda dari masing-masingjenis antibiotik. Tidak hanya sampai pada hal tersebut, akan tetapi timbulah suatu kemungkian yang menyebabkan penyakit tersebut memiliki tingkat kekebalan terhadap antibiotik tertentu.

Pengaruh negatif lain bagi anak, adalah kecendrungan munculnya ‘kecanduan’ anak pada komputer. Kecanduan bermain komputer ditengarai memicu anak menjadi malas menulis, menggambar ataupun melakukan aktivitas sosial.

Begitu halnya dengan kecenduan computer yang didominasi oleh usia dini. Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Seharusnya, orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.

Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain komputer adalah satu-satunya kegiatan yang menarik bagi anak. Pengaturan ini perlu diperhatikan secara ketat oleh orang tua, setidaknya sampai anak berusia 12 tahun. Pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik demi mengurangi dampak teknologi ini.

Kesalahan Persepsi Diyakini Oleh Masyarakat

Efek negatif yang juga dapat timbul karena kesalahan dari persepsi masyarakat dalam mengkaji suatu pengetahuan yang ia dapatkan. Salah satu contoh yang terjadi di kalangan masyarakat adalah maraknya keinginan para penikmat kolesterol berlebih. Mereka memiliki anggapan yang mengatakan bahwa untuk mngurangi berat badan maka salah satu hal yang harusdilakukan adalah mengurangi jumlah porsi serta kuantiatas makanan yang dikonsumsi. Dengan tidak mengkonsumsi nasi dibeberapa periode tertentu serta menggantikannya dengan makanan yang memiliki kadar karbohidrat yang lebih rendah.

Ini merupakan suatu persepsi yang kurang benar di mata peneliti dan pakar nutrisi. Bahwa yang dimaksud sebagai solusi untuk mengurangi kadar kolesterol adalah disebutkan oleh pakat nutrisi untuk mengatur pola makan dengan memperhitungkan takaran nutrisi sesuai dengan kebutuhan energi oleh tubuh. Maka dari hal tersebut, persepsi masyarakat juga menentukan bagaimana penerapan teknologi yang sedemikian modern tersebut dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Proses Publikasi Perangkat Kesehatan yang Tidak Tepat

Sebuah kalkulator online yang dikembangkan periset umur panjang di Sekolah Kedokteran Harvard dan Pusat Kedokteran Boston yang dialamatkan http://www.livingto100. com, di publikasikan begitu saja kepada masyarakat. Hal ini akan membawa dampak buruk terhadap masyarakat yang meyakini bahwa hasil perhitungan kalkulator tersebut benar adanya. Maka secara psikologis akan mempengaruhi harapan untuk tetap hidup sejahtera. Berbahagia bagi mereka yang tercatat memiliki umur yang panjang, tidak bagi yang tercatat sebaliknya.

Kerahasiaan Seseorang Tidak Terjamin

Majunya peradaban teknologi juga tidak menjamin bahwa penggunanya merasa aman atau terlindungi terhadap sesuatu yang berhubungan dengan privasi. Sekarang telah diciptakan pula perangkat lunak yang bisa mengukur risiko kanker payudara bagi wanita. Pasien bisa mengirim email untuk meminta rekaman medik ke dokter .Namun hal ini masih dinilai memiliki permaslahan yang kaitannya dengan privasi pasien dan keamanan data tersebut.

Terganggunya Syaraf

Saraf manusia merupakan organ vital yang perlu dilindungi. Namun teknologi juga menunjukkan indikasi bahwa dalam hal ini berbahaya bagi stabilitas syaraf. Slah satu contoh printer yang menggunakan sistim buble jet kebisingannya relative lebih rendah bila dibandingkan dengan printer sistim dot matrix. Saat ini printer yang paling rendah kebisingannya adalah sistim laser printer. Kebisingan yang tinggid apat mempengaruhi syaraf manusia dan hal ini dapat berakibat pada kelelahan maupun rasa nyeri.

Adapun batas kebisingan yang diizinkan untuk bekerja selamakurang dari 8 jam per hari adalah 80 dB. Sedangkan ruang kerja yang ideal adalah dengan kebisingan sekitar 40 – 50 dB. Apabila di dalam ruang kerja terdapat mesinpendingin (AC), maka kebisingan akan bertambah selain dari suara printer.

Repetitive Strain Injury (RSI)

RSI merupakan sebuah terminologi yang mengacu pada beberapa variasi keluhan kerangka otot (musculoskeletal). Ini menyangkut keluhan yang dikenal dengan sakit urat otot. RSI meliputi gangguan lengan atas berkaitan dengan kerja (Work-RelatedUpper Limb Disorders) dan luka penggunaan berlebihan yang berhubungan dengan kerja (Occupational Overuse Injuries).

Keluhan ini terutama diderita oleh para pekerja dengan posisi duduk yang statis saat menggunakan komputer atau menggunakan gerakan tangan yang berulang (repetitive) setiap hari, beban kerjayang statis (seperti menggenggam mouse), membiarkan lengan membengkok, dan sejenisnya dalam waktu yang cukup lama. Ini akan bertambah buruk jika tempatkerja tidak didesain secara ergonomis, misalnya posisi keyboard dan layar monitor yang terlalu tinggi atau terlampau rendah, kursi tidak menopang badan untuk duduk tegak, dan sebagainya.

Hal ini akan semakin parah bila ditambah lingkungan kerja yang kurang bergerak,kurang istirahat, mengandung stress tinggi dengan deadline dan laporan rutin serta lainnya. Apalagi jika Anda perokok, menderita kegemukan (obesitas), lemah otot ,memiliki tangan yang terasa dingin serta kurang berolah raga. Gejala awal RSI dapat muncul pada berbagai tempat dari pangkal lengan hingga ke ujung tangan.Gejala yang menjadi tanda peringatan menyangkut:

  • Kesulitan membuka dan menutup tangan
  • Otot tangan terasa kaku (misalnya hingga kesulitan mengancing baju)
  • Kesulitan menggunakan tangan (untuk membalik halaman buku, memutar tombol atau bahkan memegang mug)
  • Bangun dengan rasa sakit di pergelangan tangan atau mati rasa di tangan, terutama di awal pagi hari
  • Tangan terasa dingin
  • Tangan gemetar (tremor)
  • Tangan terasa canggung, bergetar atau bahkan mati rasa.